KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK (tugas 2)

 

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK
Nama : Nova Tania Sari
NIM : 11901110
Kelas : PAI 4C
Mata Kuliah :Magang 1
Dosen :Farninda Aditya, M.Pd

Thomas Lickona (1992:12-22) memberi pengertian karakter sebagai sifat yang pasti dimiliki sseseorang dalam memberi respon terhadap sesuatu yang dilihatyang dilakukan dalam tindakan nyata dengan perilaku yang baik.
N. A. Aeni, 2014, p. 50). Menyatakan bahwa  Nilai-nilai karakter peserta didik menjadi nilai yang sangat penting dari sistem pendidikan. Adapun karakter (character) berasal dari bahasa Yuanani  yaitu “charassian” yang berarti menandai dan memfokuskan bagaimana meimplementasikan nilai kebaikan dalam bentuk perbuatan atau tingkah laku, sehingga jika orang itu memiliki sifat buruk seperti serakah suka bohong, seorang koruptor, mudah  marah, sesuka hati dan berperilaku jelek lainnya, maka dapat dinyatakan bahwa orang tersebut memiliki karakter yang buruk. Namun sebaliknya, jika orang tersebut berperilaku baik atau sesuai dengan norma dan kaidah moral maka disebut dapat dikatakan  orang yang berkarakter.
Sementara itu Imam al-Ghazali memberi definisi karakter sebagai akhlak, yakni sesuatu yang terjadi secara spontan. Seorang manusia dalam berkata-kata dan bersikap, atau melakukan hal yang telah menjadi kesatuan di dalam dirinya sehingga ketika muncul secara spontan dan tidak perlu dipikirkan lagi atau direcanakan lagi. Oleh karena itu, Imam al-Ghazali memberi penegasan bahwa tujuan yang paling penting dari pendidikan itu adalah mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, yakni mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan semua yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi segala yang menjadi larangan-Nya (A. N. Aeni, 2014, p. 53).
Sedangkan Sudrajat mendefinisikan bahwa pendidikan karakter sebagai segala usaha yang  sengaja direncanakan dan dilakukan oleh guru dengan tujuan agar bisa memberikan pengaruh terhadap karakter para peserta didik. Pendidikan karakter dikenal juga sebagai pendidikannya, pendidikan akhlak, pendidikan budi pekerti, dan pendidikan watak yang dilakukan untuk mencapai tujuan sama yaitu untuk meningkatkan semua kemampuan peserta didik agar peserta didik mempunyai sifat atau watak yang terpuji untuk menjalani kehidupan sehari-hari (Sudrajat, 2011, p. 49).
Revolusi Industri pertama kali dipicu pada abad ke-18 pada tahun 2000, ketika banyak mesin kompleks dengan tenaga uap ditemukan, sehingga manusia memanfaatkannya dengan beralih ke mesin produksi mekanis. Secara umum, arti revolusi industri adalah adanya kemajuan teknologi industri yang sangat besar, dan merupakan kertas dengan perubahan sosial ekonomi dan budaya yang sangat pesat. Perkembangan revolusi industri yang saat ini sedang berlangsung ditandai dengan era disrupsi yaitu maraknya industri berbasis digital / online. Tidak hanya komputer tetapi juga teknologi mobile telah merambah ke semua lapisan
masyarakat, sehingga setiap orang dapat berkomunikasi. Tetapi jarak antara mereka sangat dekat atau sangat jauh (Iswan & Herwina, 2018, p.32).

Setiawan, ( 2017, p. 20,) menjelaskna bahwa pada saat ini pengembangan karakter yang sudah
Diusahakan dengan berbagai bentuk belum bisa terealisasi secara maksimal.
Hal itu dapat dilihat dari semakin banyaknya kasus kriminalitas, pengerusakan
lingkungan alam, pelanggaran terhadap hak asasi manusia (HAM), seks bebas, penganiayaan, tawuran antar pelajar, kerusuhan serta tindakan  korupsi. Berkaca dari kasus tersebut memberi gambaran bahwa saat ini bangsa kita tengah berhadapan dengan krisis moral atau akhlak.
Hal tersebut dapat  terjadi karena pendidikan era digital saat ini tidak hanya dapat
Dirasakakan oleh orang dewasa saja, melainkan juga anak-anak sekolah sudah
Bisa menikmati hasil dari perkembangan IPTEK tersebut, bahkan anak-anak
balitapun saat ini sudah pandai memainkan gadget. Maraknya kasus-kasus
di atas paling banyak dialami oleh anak-anak di usia sekolah.

Karakter tidak mungkin terbentuk secara secara cepat, melainkan harus dilatih
Dengan serius dan distimulasi secara terus-menerus setiap harinya melalui kegiatan pembiasaan. Dengan
pembiasaan  baik yang diberikan diharapkan akan dapat membentuk manusia yang
baik pula. Diantara Pembiasaan-pembiasaan untuk melakukan hal-hal yang baik seperti berkata-kata yang jujur,
tidak suka bermalas-malasan-, malu melakukan kecurangan, tidak mudah pesimis,
selalu bekerja keras harus tertanam. Disinilah peran penting bagi orang tua
dalam menstimulasi perkembangan tersebut. Oleh karena itu pendidikan itu sangat penting demi membentuk karakter peserta didik agar memiliki akhlak terpuji, dan manjadi seorang pendidik juga harus peka dalam hak ini, karena ini masih menjadi tanggung jawabnya.

Beberapa karakteristik milenial: Pertama-tama, bagi milenial, komputer itu normal. Kedua, keberadaan identitas diri sudah tidak nyata lagi. Ketiga, mengutamakan hasil daripada teori. Keempat, proses pembelajaran mirip dengan permainan yang menggunakan trial and error. Kelima, kaum milenial akan merasa sangat nyaman jika menjalankan berbagai tugas. Keenam, generasi milenial adalah orang yang anti prokrastinasi (Suissa, 2015). Kompleksitas pengaksesan informasi melalui teknologi memerlukan respon proaktif untuk meminimalisir penurunan nilai fitur sosial. Karena jika tidak dilakukan maka akan menimbulkan masalah yang cukup serius, seperti kasus kriminal, pelecehan seksual, kasus penganiayaan siswa terhadap guru, anak bertengkar dengan orang lain.
. Daradjat menilai penyebab menurunnya moral siswa saat ini adalah akibat dari perkembangan teknologi dan informasi yang tidak sesuai dengan peningkatan karakter atau kualitas moral siswa. Selain itu, kondisi sosial budaya masyarakat juga berpengaruh terhadap penurunan moral peserta didik.
Atwi Suparman (2001: 123) mengemukakan bahwa guru perlu memahami karakteristik dan kemampuan awal siswa dalam proses perencanaan pembelajaran. Menganalisis kemampuan awal siswa adalah menentukan tingkah laku siswa berdasarkan kebutuhan dan karakteristiknya untuk mengetahui perubahan tingkah laku atau spesifikasi dan kualifikast tujuandan materi. Ciri-ciri siswa diartikan sebagai ciri-ciri kualitas pribadi siswa yang biasanya meliputi kemampuan akademik, usia dan kedewasaan, motivasi pada mata pelajaran, pengalaman, keterampilan, psikomotorik, kemampuan kooperatif dan kemampuan sosial.Ada dua ciri siswa. kemampuan yang dibutuhkan guru.Mahasiswa awal yang memahami yaitu:

1) Latar belakang akademik
a. Jumlah peserta didik
Guru harus mengetahui beberapa jumlah  dari peserta didik yang akan diberi pemahaman untuk mengetahui apakah mengajar pada kelas yang  kecil atau kelas yang besar. Pemahaman tersebut akan mempengaruhi segala persiapan guru untuk menentukan materi, metode, media, waktu yang diperlukan, dan evaluasi atau penilaian pembelajaran yang akan dilakukan. Cara mengetahui jumlah peserta didik yaitu guru dapat bekerja sama dengan bagian akademik sekolah.


b. Latar belakang peserta didik
Pengetahuan guru terhadap latar belakang dari peserta didik contohnya seperti latar belakang keluarga, latar belakang ekonomi, minat, bakat dan lain-lain juga memberi pengaruh terhadap proses pembentukan sistem pembelajaran. Oleh sebab itu agar dapat diketahuinya data tentang latar belakang dari  peserta didik dapat didapatkan dilakukan melalui pengisian biodata atau formulir oleh peserta didik.


c.  prestasi 

 penting  untuk diketahui oleh guru, agar setiap materi yang diberikan bisa sama dengan kemampuan:
x bisa disesuaikan dengan tingkat prestasi peserta didik
x Bahkan peserta didik yang memiliki kemampuan prestasi yang sama dapat disatukan pada kelas yang sama.
x seorang Guru juga dapat memberikan pertimbangan tingkat yang luas dan kedalaman materi yang akan disampaikan pada peserta didik, dari peserta didik. Untuk mengetahui indeks prestasi peserta didik dapat diperoleh melalui nilai raport yang telah diberikan atau seleksi presstasi awal peserta didik yang diselenggarakan oleh lembaga.
d. intelegensi peserta didik,
untuk  Memahami tingkat intelegensi para peserta didik  dapat diukur dan memprediksi:
Tingkat kemampuan mereka dalam hal menerima setiap materi pelajaran. Memprediksi tingkat kedalaman dan keluasan materi.  Bahkan dengan memahami tingkat intelegensi para  peserta didik, guru bisa memilih materi, metode, media, serta tingkat kesulitan evaluasi yang digunakan  terhadap tingkat intelegensi peserta didik. Tingkat intelegensi peserta didik bisa guru peroleh dengan tes intelegensi atau tes potensi akademik.
e. Keahlian peserta didik dalam  membaca
Salah satu kecakapan yang mesti dimiliki oleh peserta didik dalam kegiatan belajar adalah ketrampilan dalam membaca. Ketrampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan peserta didik dalam menyimpulkan secara tepat dan terpercaya mengenai setiap  bahan bacaan yang merekabaca. Cara guru agar mengetahui tingkat ketrampilan membaca peserta didik dapat dilakukan dengan cara tes membaca serta  menyimpulkan bahan bacaan dalam durasi waktu yang telah ditentukan sebelumnya.

f. Nilai ujian
ujian Juga dapat dijadikan sebagai pegangan untuk mengetahui karakteristik awal para  peserta didik. Agar bisa mendapatkan nilai ujian peserta didik, perlu melakukan tea kemampuanpeserta didik tentang mata pelajaran yang dipegang oleh guru yang bertanggung jawab terhadap maya pelajaran tersebut.
g. gaya belajar /Kebiasaan belajar
Aspek lain yang penting diperhatikan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran adalah memahami gaya belajar setiap peserta didik atau disebut juga dengan learning style. Gaya belajar mengarah pada cara belajar yang  disukai oleh peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran, ada banyak para peserta didik yang mengikuti kegaitan belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan menggunakan metode yang sama, namun memiliki tingkat pemahaman yang tidak sama. Perbedaan ini tidak serta merta disebabkan oleh kecerdasan peserta didik yang berbeda-beda, namun ditentukan dengan cara belajar yang dimiliki oleh masing-masing peserta didik. Ada Seorang peserta didik yang suka membaca, kurang bisa belajar dengan baik saat dia harus mendengarkan penjelasan atau diskusi. Demikian pula, para peserta didik denga gaya belajar kinestetik yang senang bergerak atau melalui berdiskusi tidak akan bisa belajar dengan baik jika dia mesti mendengarkan penjelasan dari para guru. Selanjutnya, gaya belajar atau learning style biasa diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan dari peserta didik dalam hal cara menerima informasi, menafsirkan, mengorganisir, merespon, serta memikirkan informasi tersebut (Hisyam Zaini, 2002: 45).
Beragamnya gaya belajar dari peserta didik penting diketahui untuk para guru pada awal belajar. Sehingga guru memiliki pemahanan dalam memilih pendekatan dan media pembelajaran yang ditentukan oleh kesesuaian antar pendekatan pembelajaran berdasarkan setiap tingkat perkembangan psikologis peserta didik  dengan gaya belajar yang disenangi oleh para peserta didik. Adapun prinsip dari efektivitas pembelajaran adalah keserasian pendekatan mengajar dari guru dengan gaya belajar peserta didik.
h. Minat belajar
Minat belajar juga bisa digubnakan sebagai tolak ukur dalam hal  memahami karakteristik peserta didik. Hal ini dilakukan oleh guru agar bisa  memahami atau melihat tingkat keinginan dari peserta didik mengenai pembelajaran yang disampaikan.
Oleh sebab itu guru harus melakukan wawancara atau diskusi, agar bisa merangkum semua penilaian yang merujuk tentang keinginan peserta didik mengenai setiap mata pelajaran yang akan disampaikan.
i. Harapan peserta didik
Harapan atau keinginan peserta didik mengenai mata pelajaran yang akan digunakan juga bisa dijadikan sebagai contoh guru untuk memahami karakteristik setiap peserta didik. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menyuruh peserta didik untuk mengutarakan pendapatnya mengenai
harapan mereka terhadap setiap mata pelajaran yang akandipelajari, suasana yang diharapkan, serta tujuan yang ingin dicapai terhadap  mata pelajaran yang dipelajari.
j. Lapangan kerja yang diharapkan
mengenai Hal tersebut yang dapat dilakukan dengan cara pengisian formulir disertai tambahan tentang minat dan cita-cita peserta didik. Sehingga berdasarkan informasi ini seorang guru bisa memberikan bimbingan atau motivasi untuk peserta didik


Referensi:
Sofaudin, Aji. Dkk. (2020).  Literasi Keagamaan Dan Karakter Peserta Didik. Yogyakarta: DIVA Press


Taufik, Ahmad. (2019). Analisis Karakteristik Peserta Didik. el-Ghiroh. Vol. XVI, No. 01. Hlm. 2-5

Komentar